Skip to main content

Information Density

·326 words·2 mins·
Aditiya Aditiya
Author
Aditiya Aditiya
Mandarin interpreter and occasional developer.

Image Description
((foto pemanis, tabel di Excel))

Pada suatu rapat online, saya menyaksikan sajian tabel excel di layar komputer. Bermodal tabel itu, kami berdiskusi mempertimbangkan segala hal, bermodal tabel tersebut. Di layar laptop, mungkin yang terlihat adalah bagian kotak-kotak dipadati oleh detail angka serta informasi. Sedangkan di dalam kepala saya, saya ‘membaca’ betapa format penyajian informasi ini adalah anugerah.

Dengan bantuan komputer dan penyajian data yang sedemikian padat, kita bisa mengira2 berbagai aspek. Kita seolah berinteraksi dengan komputer dengan bandwith informasi relatif tinggi, misal dibanding menyerap informasi via suara.

Betapa informasi bisa dimampatkan, densitas informasi bisa kembang kempis, bisa ompong padat. Betapa manusia dapat banyak berkah dari teknologi bernama tabel. Sajian data dalam tabel itu sangat membantu untuk bisa memroyeksi berbagai aspek.

Dan konon, catatan ekonomi dunia tertua pun berupa ’tabel’ catatan (hutang piutang) bernama tablet Mesopotamia.


Konsep densitas informasi ini saya baca pertama kali di blog Anna Archieve. Anna Archieve adalah website kontroversial, yang saya pribadi pun tidak merekomendasikan untuk dikunjungi, apalagi didukung gerakannya. Pokoknya jangan dicari apa itu Anna Archieve.

Anna Archive merilis sebuah blog yang berisi tentang densitas informasi terpadat berada di buku, terutama buku yang sudah di-digitalisasi. Dalam blog tersebut mereka menyajikan, betapa human knowledge di sepanjang sejarah keilmuan manusia hanya terangkum dalam 700an Tera data.


Interaksi kita dengan gawai device menciptakan pola komunikasi baru. Kita dulu merasa bahwa kita terbantu terhubung dengan sesama teman atau kenalan kita lainnya. Saat zaman makin berkembang, kita juga dimungkinkan bisa berinteraksi dengan mahluk lain bernama gawai.

Elon Musk pernah bilang bahwa interaksi kita dengan layar hape memiliki bandwith transfer informasi tingkat tinggi. Kita scroll video dan menyaksikan potongan Tiktok, seolah kita berada di scene yang tertampil di sana. Lebih jauh pula, gawai dengan segala jenis pilihan sosial medianya, seolah bisa menyetir aktifitas otak dan neuron, mempengaruhi senang sedih kita, dan mempengaruhi keputusan-keputusan kita.

Tidak terasa, kita sudah menjelma cyborg, jenis manusia yang punya kekuatan super berkat gawai dan teknologi.

Betapa lamunan ini makin kemana-mana. To be continued.

Reply by Email