Saya habis menonton sebuah video podcast di YouTube.Β Seorang mbak tamu di podcast itu sedang bercerita saat masa awal pindah ke Jogja. Di tengah-tengah bercerita ia terlihat sempat bingung memilih kata untuk mendeskripsikan sesuatu: kondisi rumah tinggalnya yang baru.
Saat si mbak sedang bertelpon dengan sang ibu. Sang ibu menangis, via video call dari jauh Jakarta, lantaran rumah tinggal barunya terlihat kumuh dan jelek. Saat menceritakan momen itu, si Mbak sempat kebingungan mencari diksi kata menggambarkan rumah kumuh dan jelek, si tuan podcasternya menyela: “oh, rumah hantu?”.
Oke. ‘Rumah hantu’. Sebagai penyimak, kompromi mereka atas dipakainya diksi rumah hantu membuat pikiran saya terganggu.
Satu sisi jadi terpikir, bahwa keputusan kita memakai suatu diksi kata tertentu salah satunya karena mempertimbangkan ‘biaya’ beban mikir. Kosa kata mana yang paling mudah diingat, kata itulah yang akhirnya dipakai. Apalagi saat sedang mengobrol.
Sejenak saya mencerna tentang konsekuensi dari cost of mikir, saya behipotesa konsekuensi yang lain. Setidaknya secara kebudayaan, hal ini menyimpan konsekuensi yang mahal di jangka panjang.
Saya berpikir, mungkin kebiasaan inilah yang pada akhirnya bikin kita kekurangan pilihan kosa kata yang presisi, layaknya dalam bahasa Inggris atau bahkan Mandarin. Kita yang terlalu terbiasa menggunakan kosa kata umum atau kata yang hanya mudah diingat, pada akhirnya pilihan katanya menjadi itu-itu saja, dan beberapa kata menjadi umum?
Saya pun maklum. Proses pemilihan kata yang pas dan presisi mungkin akan costly di awal-awal, namun akan memberikan kita less effort di fase-fase komunikasi selanjutnya. Ditambah lagi penggunaan kosa kata presisi akan mengurangi resiko salah makna dan salah paham.
Terpikir bahwa apakah mempermasalahkan hal ini berarti ribet? Saya kira tidak sama sekali. Menurut keyakinan saya, mengabiskan waktu untuk berpikir dan menimbang-nimbang antara kata demi kosa kata lainnya adalah sebuah keseruan.
Kenapa kita cenderung menyingkat bahasa, lalu bablas menggunakan kosa kata yang umum, sekalipun ada implikasi salah arti? Kita memakai istilah rumah hantu untuk ukuran rumah yang jelek. Sekalipun ada implikasi lain, misal, saat rumah hantu diucapkan, yang terlintas adalah banyak hal: rumah jelek. Rumah tidak terawat. Rumah kumuh. Rumah angker. Rumah yang tidak ditinggali dalam waktu lama.
Kala diksi yang dipakai terlalu umum, maka makin besar kemungkinan terjadi salah semat makna.
Kosa Kata Sedikit #
Apa implikasi kebiasaan ini dalam hal menyumbang pengaruh sedikitnya kosa kata bahasa indonesia?
Ada hal lain pula adalah, bagusnya apa saja? Kita bisa mengobrol dengan lebih santai, namun di saat yang lainnya adalah kita bisa membungkus bahasan obrolan dengan bahasa-bahasa yang lebih familiar.
Membungkus bahasan dengan bahasa familiar kemudian memberikan.
Terlepas dari ternyata bahasan yang kita bawa mencerminkan latar belakang, maju atau tidaknya, bukan menjadi soal. Karena mungkin bagi sebagian orang hidup adalah yang penting hidup.
Singkatan #
Bahasa cina yang disingkat makin efektif. ι«ιγι«ιε°ιγKereta cepat. Kereta rel ekstra cepat.
Mungkinkah bahasa Indonesia mengadopsi teknik serupa? Mungkin secara tidak langsung kita sudah melakukan hal yang sama. Dengan kata lain fenomena ini terjadi di indonesia.
Kita sudah terbiasa dengan nama lembaga atatu program pemerintah dalam versi singkat. DPR. MPR. Atau bahkan RI dalam tulisan NKRI. Mekanisasi bahasa sudah terjadi, dan kita punya arsitektur yang efisien, sebagaimana menggunakan prinsip bahasa yang terjadi di bahasa mandarin.
Namun apkah ini berkah atau tantangan bahasa?
Saya rasa ini adalah berkah, yang perlu kita explor dan arahkan sedemikian rupa. Sebisa mungkin me. Mungkin ini adalah bentuk evolusi bahasa kita. Dan ini baik.
Kita akan lebih bisa menyingkat dan menghemat energi dalam berkomunikasi.
Tantangannya jelas ada. Bahwa kita perlu membuat singkatan, harus membiasakan diri membentuk singkatan yang bagus. Masyarakat memang punya mekanisme mengabaikan singkatan-singkatan yang buruk. Kita jarang menggunakan BPUPKI. Atau KORLASTARPAM. Tapi kita bisa paham jika ada orang bilang KOPASSUS. Mungkin hintsnya adalah kita harus maksimal 3 suku kata. Agar efisien dan mudah dipakai dan tidak berseberangan dengan tujuan penyingkatan sebelumnya.
Singkatan china seolah dipakai umum langsung. Mudah diterima. Benarkah? Adakah fenomena singkatan tidak jadi dipakai, sebagaimana terjadi fenomena dilupakannya singkatan jelek, serupa KORLASTARPAM?
Sebenarnya fenomena ini punya bahasan lain yang bisa ditulis: peran lembaga bahasa Indonesia, entah apa itu namanya, yang akhir-akhir ini makin giat menambahkan kosa kata baru. Kosa kata asing baru. Penyerapan banyak kosa kata, namun menurut hemat saya, belum memenuhi syarat Arbitrer dipakai oleh masyarakat majemuk.
Shout out perihal seorang tokoh penyusun kamus bernama pak X, penyusun kamus indo serial kamus xxx. Yang konon akan berkenan memasukkan sebuah entri kata ke dalam kamus dengan syarat kata tersebut sudah dipakai oleh setidaknya 3 orang penulis. Menurut saya ini legit. Dan bagus.
Kembali lagi, kita ingin bahasa Indonesia berkembang bertumbuh. Ini upaya besar yang perlu dilakukan oleh banyak orang, dari berbagai lapisan dan golongan. Ini bisa dicapai dengan banyak cara. Bisa dengan menciptakan kata yang cukup spesifik dengan kombinasi yang baru.
Bagus Muljadi: Cara Pikir Berantakan #
sumber tweet Bagus Muljadi luasnya kosa kata membantu manusia memberikan multi dimensi paradigma. kita bisa berkomunikasi dengan pilihan framework atau mindset words set yang kaya, memungkinkan kita memiliki pola pikir yang lebih berwarna dan lebih mudah dicerna.
Reply by Email