Skip to main content

Yingkou Pasuruan

·228 words·2 mins·
Aditiya Aditiya
Author
Aditiya Aditiya
Mandarin interpreter and occasional developer.

Kota Yingkou rasa-rasanya mirip Kota Pasuruan. Sepintas ia kalah modern dari Surabaya, Malang, atau kota terdekatnya. Namun jangan salah, sekali Anda datang dan masuk ke area-area hidden gemnya, Anda mungkin mengamini kemiripan ini sepenuhnya.

(atau sebenarnya saya yang salah praduga?)

Dari segi ekonomi, tebakan saya, daya beli warganya terbilang kencang. Jumlah gerai brand internasional modern banyak bertebaran. Jenis brand dan harganya tentu menengah atas semua. Jangankan mobil macam Tesla, Audi atau Porsche, barang kebutuhan tersier kebutuhan petantang-petenteng dari brand besar pun membludak bertebaran.

Saya tidak sampai hati menyebutkan, bahwa brand yang dimaksud adalah sekelas Rolex, Tudor dan Longiness. Saya terpukau brand ini ada di Yingkou. Pun saya ingin menjaga hati warga Pasuruan.

Anda mungkin akan protes, dan itu tidak salah. Skala ekonomi Yingkou bisa jadi berlipat kali lebih menyala. Bukan kelasnya jika dibandingkan Pasuruan. Bahkan Surabaya. Tapi yang pasti, sekali saya sampai di kota ini, saya teringat Pasuruan.

Industri di Yingkou banyak berukuran jumbo. Bahkan punya pabrik aluminium yang skalanya konglomerasinya pernah terbesar kedua sedunia. 1 juta ton aluminium per tahun. Kapasitas produksi BUMN Inalum pun tidak sampai separuhnya.

Belum lagi pabrik jumbo lainnya. Macam-macam dan gemah ripah jumlah dan ukurannya. Jika skala industri dikecualikan, hal yang mirip Pasuruan adalah: sama sama didorong industrinya, yang bikin ekonomi masyarakatnya makmur ga ketulungan.

Dada saya makin terpenuhi perasaan tidak nyaman: Indonesia makin valid jika dibilang negeri jauh terpencil dan tertinggal.

Reply by Email