Saat ini sore sekitar pukul 17.00 di boarding gate kereta cepat, di stasiun Yingkou. Kereta cepat, kereta Gaotie ι«ι. Matahari panas, berpadu dengan udara dingin kering Dongbei. Saya bersiap hendak ke kota Beijing. Kota Tsinghua. Perjalanan yang jaraknya hampir sejauh Surabaya-Jakarta. Tulisan ini harus segera ditulis, agar sensasinya bisa terekam penuh utuh.
Pikiran mulai panik. Badan dan raga seolah menyusut menjadi mungil, berada di sudut bola dunia yang demikian besarnya. Bayangkan, Yingkou adalah kota kecil di pojok tenggara China, hampir segaris lurus dengan Korea utara. Jauh dari rumah kampung halaman, pulau kecil di perairan utara pulau Bali sana.
Sore mendebarkan. Harus mengejar kereta estafet. Berangkat dengan perasaan sudah nano-nano. Masih nyaring debar nadi pasca mengejar waktu dari pabrik Zhongwang ke Stasiun Yingkou bermodal manggil taksi lokal. Bukan ojol umum yang lebih murah.
Agar si taksi lebih cepat datang menjemput, lalu cepat berangkat. Memanfaatkan detik demi detik untuk mengejar kereta sore. Every second matters.
Taksi melaju, ruang dan waktu menunaikan keajaibannya. Badan terasa benar-benar menyusut kembali ke usia kelas 5 SD. Sebagai bocah kepulauan 3T, tanpa didampingi orang tua, hendak bepergian sendirian untuk kali pertama menaiki perahu kayu. Menuju pulau seberang, Djawa Dwipa. Dari pulau Sapudi ke pelabuhan Situbondo. Berlayar selama 6 jam. Detik detik dilalui seolah sedang di dalam film Interstelar: berjalan di lorong waktu: black blank hole, with no return home button.
Β Dari saking pasrahnya, rasanya tak ada resiko terbesar kala itu selain legamnya laut biru, makin legam gelap seiring kapal berlayar menjauhi pulau kampung halaman. Dari saking gelapnya, seolah bisa kulihat pantulan bayang malaikat Jibril di nganga ombak selat Bali-Madura. Ruang nganga itu seolah celah dimensi asing bernama ‘akhirat’, siap menyedotku kapan saja, titik akhir perjalanan hidup sebagai mahluk di muka bumi.
Mungkin pengalaman berlayar itulah yang menjadi pondasi berani mengarungi negeri asing. Termasuk perjalanan kali ini. Satu aksi menimbulkan aksi lain. Satu keberanian menyulut keberanian lain. Cemas-cemas menyenangkan.
Barangkali momen itulah awal mula datang keberanian mengeksplor sudut-sudut bumi selain halaman dan pekarangan rumah.
Berlayar ke Jawa, lalu mengunjungi sudut kabupaten-kabupatennya, menyambangi sudut-sudut Bali, berlayar ke Nusa Tenggara, mendatangi pedalaman Sulawesi dan pinggiran Kalimantan. Menjelajahi tol dan jalan raya, dan menemukan diri sendiri terhampar di kepingan-kepingan aksara rambu jalan raya.
Kereta cepat yang akan ditumpangi bernama Shenyang Utara. Kereta itulah yang akan menjadi sekocil yang mengantarku mengayun ayun di nganga samudera. Tidak ada cara lain kecuali pasrah dan mengikuti deru arusnya.
Sekali lagi, perjalanan kali ini mirip rasanya saat pas SD naek kapal layar sendirian. Perahu kayu.
Saat itu laut adalah letak dimana batas dunia berada. Kita tak pernah tahu di balik garis horizon itu ada apa. Resiko terbesar kali itu adalah laut. Seolah di balik laut adalah langsung akhirat.
Rasa ngeri laut akan selalu ada. Dan kembali hadir dalam bentuk bentuk lain. And here we go. Exploring another edge of the horizons.
Lalu abis itu jalan kemanapun biasa aja. Sampe keliling Jawa sendirian. Aman. Mau nyasar kek manapun toh masih di pulau yang sama. Masih di pulau Jawa.
Tetap. Kali ini pun beda lagi. Rasanya aneh. Seolah rasa panik datang lagi. Seolah menjadi anak kecil lagi. Naek kereta Gaotie di negeri orang first time rasa itu datang lagi.
Resikonya bukan memang bukan lagi laut. Bukan lagi senyuman malaikat jibril. Tapi langsung ngerinya tersesat di negeri orang. Namun tetap, ada resiko lebih besar, yakni telat pulang dan telat masuk kerja lagi. Harus balek pulang tepat waktu. Resikonya adalah amanah buat masuk kerja tepat waktu di hari Senin.
Reply by Email