perjalanan kereta Surabaya Banyuwangi kali malam ini bikin aku teringat pertama kali naik kereta China. kereta express sekaligus kereta ‘kuno’, kucoba dalam satu malam. dalam misi one night train to Beijing.
“naik apa ke Beijing?”
“kereta”
“wah. berangkat sore dari Yingkou. mesti nyampenya malam”
“ngga. nyampe pagi.”
**
dari Yingkou meluncur ke kota sebelah terlebih dahulu. entahlah sudah lupa namanya. sebentar saja. durasi naik tidak sampai 30 menit. naik woosh nya China.
dari sana naik taksi, menuju ke stasiun kereta stasiun barat kota xxx. kereta dimana mungkin khusus kereta hijau. kereta yang sepertinya pernah dinaiki pak Dahlan.
taksi yang kutumpangi sepertinya sadar dan ngeh kalau aku bukan Chinese. sudah lupa bagaimana basa basi kami waktu itu. yang pasti aku banyak mengorek berapa besaran income jika berprofesi supir di kota kecil seperti di kota itu. kotanya lebih kecil dibanding Surabaya, namun lebih besar berkali lipat dari Pasuruan.
entah, yang pasti gajinya cukup untuk hidup saja. kami ngobrol why warga China banyak beli mobil listrik. “ah tidak juga”, jawab beliau. beliau lebih suka mobil bensin. lalu ndilalah obrolan mengalir, beliau cerita jaman kecil yang serba susah. orang miskin di mana-mana. susah mencari bahan makanan, hingga lumrah dari warga sana makan kulit pohon. kini sudah alhamdulillah, kotanya maju luar biasa.
tidak semakmur Yingkou. apalagi semaju Shenyang. tapi setidaknya keluarganya sudah bisa makan nasi, susu dan roti. tidak lagi makan kulit pohon seperti halnya nenek kakeknya di jaman dulu.
sesampai stasiun yang dimaksud, aku seolah de javu. stasiunya mirip tampilan luar stasiun malang lama. namun skalanya 3-4 kali lipat. wahm stasiunnya gedung panjang dan 3 lantai? banyak parkir mobil di luar. gedungnya megah, setidaknya untuk ukuranku. gedung sekelilingnya membuat stasiun itu makin berkharisma. penuh hotel menjulang tinggi. kalau ga salah ada merchant hotel juga.
aku tak langsung masuk. kulihat-lihat sekeliling muka stasiun. banyak toko ‘kelontong’.
kuputuskan beli amunisi dulu. mumpung masih di luar stasiun. rasanya jika pun di dalam stasiun terdapat minimarket, bisa jadi harganya berkali lipat mahal. serupa halnya minimarket stasiun di Indo.
maka ku pilih beli di luar stasiun. ada setidaknya 4 toko kelontong. aku pilih salah satu. nanya harga jajan, eh diproduksi Shenyang. susah kutemukan hasil produk hasil lokal. yang alamat pabriknya di kota itu.
sudahlah. kubeli sebungkus kue kacang. yang ternyata nanti baru kutahu kalau kacangnya sudah mulai apek.
keretanya belum datang. kulihat orang-orang lebih banyak memakai koper. kucari adakah penumpang yang membawa barang bawaan dibungkus kardus. tidak ada. apalagi yang memakai kardus Indomie. apalagi memakai kardus rokok sebesar gudang garam. mereka sudah pada memakai kopor dan tas. kopornya bagus-bagus. dandananya memang beberapa ada yang masih terasa China kabupaten. namun tetap, lebih banyak yang berpakaian bagus-bagus.
**
keretanya sampai. beneran berkulit warna hijau. dalam bahasa British Temor: warna biru daun. kutengoknya plat nama di lambung gerbong. ada. rupanya tembus Beijing hingga kota salju Harbin, China utara.
sebelum kereta sampai, pak satpam minta kami berbaris. sesuai letak pintu masing-masing gerbong. terlihat ada ibu ibu nanya ke pak satpam, “jika hendak naik di gerbong ini, antre sebelah mana?” ditunjukkannya sesuai estimasi berhentinya.
ajaib. gerbong yang tertera di tiket ternyata beneran berhenti kurang lebih pas di sekitar beliau berdiri.
tempat antri itu bertanda sebuah lampu led. belakangan kulihat ada beberapa lampu yang mati. tapi setidaknya tempat antri memiliki nomor urut. bisa mudah ditebak nomor-nomor itu adalah posisi pintu gerbong. jarak antar titiknya sesuai dengan kisaran jarak gerbong.
kucari lah tempat tidurku. ya. kereta ini konon punya kasur baring. sengaja kubeli tiket versi kasur. bukan duduk tegak laksana kereta Dhoho atau Matarmaja. sepertinya kereta ini lebih gokil, karena perjalanan malam benar-benar tidur terlentang. bukan tidur duduk dengan mode pura2 tidur ayam.
**
ammmak. ternyata kasurnya susun. aku dapat di atas. rongga tidurnya menang cukup untuk dipakai orang tidur. ditinggali tidur. namun lebih cocok disebut liang tidur.
kala itu masih malu2 kuajak ngobrol penumpangnya. antara memang belum berani, atau memang saat itu berpikir logat dongbei demikian kentalnya, akan challenging untuk dipahami. jadi begitulah, berkomunikasi via tatap-tatapan saja.
tiba-tiba sudah subuh. sudah sampai di Tianjin. kaget. ini kan nama kota yang pernah disinggahi pak Dahlan dulu. yok, jepret foto dulu.
ada kereta buket berisi kontener. jepret.
ada jembatan penyeberangan. jepret.
baru kali ini liat kereta bawa barang. kontainer atau barang berat lain tidak harus dimuat truk trailer Hino besar 40 feet yang boros bbm itu. pun tidak menuh-menuhin jalan raya dan menghimpit pengendara motor Honda Beat karbu 2005.
itu sekitar jam 4. mungkin ya. mungkin saja salah. kejadiannya beberapa bulan lalu.
yang pasti makin terpukau saat terdengar pekikan pegawai kereta. “stasiun Beijing! bersiaplah! stasiun Beijing!”
ah.. seperti apa itu Beijing? kukemasi barang. kuturun dari ranjang. eh, liang tidur. kususuri gerbong kereta dari ujung ke ujung.
banyak bapak bapak mulai bersih-bersih cuci muka dan sikat gigi. ingatan teringat pemandangan lorong pemandian di mess tenaga kerja China Morowali. namun kali ini dengan ruang space kendaraan kereta kecil.
ku lewati lagi gerbong. ketemu orang tua. ketemu beberapa anak muda. lalu ketemu dua bocah.
segmen penumpang yang kusebut terakhir ini adalah penumpang yang paling tidak berbakat menyembunyikan rasa terkejut heran. mereka menatapku laksana bocil desa melihat pocong yang lewat di beranda surau. haha. aku terindentifikasi laowai. bule melawai.
sampailah di Beijing. lorong peronnya besar. untuk ukuran kereta rakyat (rakyat sumenep), stasiun ini begitu megah. oh, ternyata tersambung dengan metro. kok arsiteknya kepikiran.
sungguh aneh. kenapa kereta antar kota langsung disambung begini. pun di lorong2 penyambungnya hanya dihiasi gambar tanaman. mestinya pemkot atau pengelola stasiun Beijing pasang kios-kior dan bedak-bedak jualan oleh2 dan minuman, ala stasiun terminal Purabaya Bungurasih Surabaya.
Reply by Email