dalam rangka killing time saat perjalanan speed boat menuju Tarakan, saya membaca tulisan pak Dahlan. tentang Wamena Papua. tentang talas ubinya. tentang harga babi yang demikian mahalnya.
betapa banyak kesempatan usaha di sana. pembeli ada. jika terbiasa dengan harga mahal, barang dengan harga lebih murah mestinya akan gampang diterima pasar.
entahlah. saya belum pernah mencobanya. menjual barang belum beneran saya lakukan dalam jangka waktu lama.
lalu termenung bagaimana beliau menulis deskripsi sebuah daerah. rasanya sudah lama sekali membaca murottal tulisan beliau saat menceritakan sebuah daerah. sepertinya terakhir kali kali terakhir sy baca adalah tentang jembatan Suzhou dan kota lain di China.
debur deru kapal speed menggema di udara. speed Bulungan Tarakan demikian lajunya. saya terbayang kampung halaman dan segala manis getirnya
tentang usaha membuat produksi barang mahal, agar supaya warga Wamena tidak melulu impor dari Jawa bikin saya mikir lagi. banyak daerah yang belum memproduksi barangnya sendiri. kebutuhannya sendiri. entah babinya, entah berasnya, bahkan entah air mineralnya. tiap ke daerah saya selalu membaca kota produsen air mineralnya. selain membaca air mineral yang dijual di warung makan di Pasuruan, saya selalu kecewa. mengangkut air dalam kemasan botol pasti lebih dari 1 rupiah mahalnya.
kapal speed ini melaju dengan kencangnya. kapal alkamarine yang biasa melayani rute site Bulungan ke Tarakan sedang perbaikan. digantikan kapal xxxx. ruangannya lebih lebar. start mesinnya lebih smooth. yang sama adalah kecepatan dan jarak tempuhnya.
sebentar. jarak Bulungan Tarakan sepertinya mirip jarak Kalianget Sumenep ke pulau sapudi, kampung halaman. jika di Bulungan Tarakan ada tersedia layanan speed, kenapa tidak ada layanan di rute sumenep sapudi?
mungkin akses harga. kapal fiber mahalnya entah berapa. kapal kayu lah yang bisa jadi pilihan.
bulan lalu sempat ada bahari ekspress. bertahan beberapa bulan. kapalnya besar. kursinya banyak. mungkinkah karena penumpang dikit, bahari mengalihkan ke area yang lebih lebar?
membayangkan pemilik bahari membuka rute sapudi, lantaran karena rame luar biasa saat lebaran. tapi kan itu hanya pas lebaran.
untuk ukuran bahari, menyediakan kapal kecil mungkin akan kurang menguntungkan. toh terserah bahari mau menaruh kapalnya ke mana. tidak harus ke sapudi.
namun saya sebagai orang sapudi, dengan segala ikatan biasnya menjadikan model sapudi sebagai potensi rute kapal speedboat. rasanya, pendapatan income penduduknya makin bagus. tiket 100 ribu bisa jadi akan mudah diterima. toh harga kapal ferry 70 ribu. beda 30 ribu untuk benefit waktu lebih singkat, sepertinya akan mau.
sapudi mungkin kalah jumlah occupancy penumpang saja. hmm.
wait, berapa harga kapal speedboat?
jika kapal nelayan bermodal solar bisa melayani pulang pergi, kenapa sapudi tidak bisa? jika ternyata jumlah penumpang jauh lebih sedikit dari yang saya kira, bagaimana cara menghitung jumlah realnya? apakah sampan motor sapudi bergantian agar semua pemilik sampan bisa kebagian?
saya lebih pro transportasi laut dibanding moda darat. itu karena pulau sapudi berada di tengah laut dan terpisah dari pulau jawa dan madura. dan bagaimanapun, moda speedboat idealnya lebih cepat dan murah ga sih?
rasanya saya perlu belajar lagi untuk cara pemilihan kapal. bos saya orang marine. yang belum saya tahu: jurus cara mengukur besaran permintaan.
jika letsay, Richard Branson berada di posisi saya, di situasi orang yang bolak-balik mengunjungi sapudi, akankan dia menyewa kapal speed kecil, lalu disewakan kepada para penumpang umum, termasuk porsi penumpang kapal lain?
ngecek jumlah penumpang belum saya lakukan sekarang. pun rencana membeli kapal. tetapi setidaknya, yang saya bisa sekarang adalah mengajak ngobrol nahkoda speedboat Alkamarine. berapa biaya trip bahan bakar bensin mereka.
oke. saya harus ajak ngobrol mereka dulu.
Reply by Email