Skip to main content

Lino Blink

·420 words·2 mins·
Aditiya Aditiya
Author
Aditiya Aditiya
Mandarin interpreter and occasional developer.

Richard Joost Lino. pertama saya kenal dari tulisan bapak Dahlan Iskan tentang gebrakan 100 tahun revitalisasi pelabuhan Tanjung Priok. Tanjung Priok dibangun ulang, di-reengineering, diperbaiki, diperdalam, diperpanjang jangkauan dermaganya hingga kedalaman tertentu, hingga memungkinkan bisa serve melayani industri pelayaran hingga seratus tahun.

seperti yang Anda tahu: seiring bertambah waktu, ukuran kapal senantiasa makin berukuran jumbo. ukuran dibuat jumbo agar bisa menampung muatan lebih banyak, entah muatannya berjenis kontainer atau bulk curah. muatan makin banyak diharapkan ongkos transportasi per unit ton jadi makin murah. makin bengkaknya ukuran kapal, kapal-kapal ini hanya berlabuh di pelabuhan yang punya kedalaman laut yang cukup dalam. pelabuhan yang baru dibangun di era modern bisa saja sudah dirancang memiliki kedalaman yang cukup untuk kapal jumbo. sedangkan pelabuhan lama, seperti Tanjung Priok, perlu menyesuaikan diri dengan cara memperdalam kedalaman pelabuhan.

memperdalam kedalaman pelabuhan bisa dengan cara mengeruk area berlabuh, bisa dengan membangun jembatan panjang menjorok ke tengah laut, area yang memiliki kedalaman yang cukup. Pak Lino memilih opsi kedua.


saya baru paham tentang aspek teknikal tersebut saat membaca ulang tulisan pak Dahlan sekarang. setelah menonton ulang sosok RJ Lino di YouTube, saya harus membaca ulang tulisan di buku pak Dahlan, dari pinggir pelabuhan tersus Adaro, ups, Alamtri group. salah satu statement beliau adalah upaya membangun pelabuhan setidaknya didesain untuk masa pakai 100 tahun.

cara pak Lino nge-breakdown harga transportasi adalah hal baru bagi saya. beliau membedakan antara transportasi cost vs logistic cost. ongkos transport vs ongkos logistik adalah dua hal berbeda. bukan hanya kendaraan dan biaya solar dkk, secara persentase, ongkos logistiklah yang bikin mahal — cost bengkak yang menggerogoti kita. pak Lino melabeli adanya kebijakan subsidi bahan bakar sebagai artificial effort. lantaran subsidi, fuel BBM terasa lebih murah, pemilik armada logistik merasa transportasi via darat dirasa lebih murah.

upaya artificial ini membuat mereka lebih memilih jalan darat dan melalui truck. truck banyak hambatannya, dan sering bermasalah, berujung tidak reliable. semakin unreliable, makin buruk tingkat kepastian layanan logistik Indonesia, berujung membuat logistic cost menjadi mahal. lantaran pengiriman barang tidak reliable, pelaku jasa logistik perlu menyewa gudang penyimpanan lebih besar untuk mengakomodir kelangkaan barang akibat kendala pengiriman.

pasca mendengarkan paparan beliau, muncul model baru dalam daftar pustaka sosok manusia gokil, yang saya kumpulkan. jenis sosok yang punya karakter persona (bakat?) berpadu dengan pengalaman lapangan yang panjang. rasanya, saya harus belajar lagi bagaimana pola pikir terbentuk: mathematical thinking, atau umumnya logical thinking– hal-hal yang tidak mudah untuk dilakukan secara effortless. apalagi sampai menjadi level insting yang mengilhami keputusan kita, seperti bapak Lino. barangkali Malcom Gladwell menamai ini sebagai: insting Blink!