Skip to main content

Dalian Luxun

·415 words·2 mins·
Aditiya Aditiya
Author
Aditiya Aditiya
Mandarin interpreter and occasional developer.

Kota Dalian, di suatu hari Minggu pagi. udara keringnya serasa menyerang dan menggerogoti lapis terluar kulit tangan lenganku. jam terlihat belum jam 8. matahari sudah demikian terang, dan hangat. kira-kira mirip saat kita upacara bendera di sekolah, di hari senin pagi.

mobil mondar mandir. trem dan bus kota sudah aktif. pojokan jalan tidak macet. lengang. ah, trem. kota yang antik.

tak satupun kulihat becak atau ojek berlalu lalang, seperti halnya di jalanan indonesia. mayoritas penduduknya naik mobil. banyak pula mobil listrik.

udara di minggu ini terhitung sudah mulai panas. musim dingin sudah pergi jauh. terdapat dua orang bapak usia senior sedang berbincang di depanku.

kubuka peta. baidu maps. toko buku Beifang Northern Book Town buka jam 9 pagi. itupun kalau tidak salah, maklum, review peta tertulis berbulan-bulan lalu. kondisi luar toko sangat kotor, untuk ukuran China. satu-satunya harapan adalah isi toko itu: bersih dan bukunya terlihat banyak.

“toko buku masih buka, pak?”

“oh masih.”

senyap. tidak ada respon dari bapak-bapak itu. sepersekian detik kupakai untuk pura-pura sibuk mengamati gedung ini. kedua bapak ini seolah bro teman akrab.

“kamu dari mana?”

“Yinni. 印尼。Yindunixiya. Indonesia”

“oohh. Yajiada? Jakarta? Sukarno!”

“ah. yes! ε―Ή!”

“good.” bapak itu sedikit senyum.

“tapi Suharto tidak good.” ucapku. hehe.


saat minggu pagi kemarin kucoba jalan di pusat kota. bundaran Zhongshan. ah, betapa rindunya pada kota Dalian musim pasca musim semi.

area Zhongshan dulunya adalah tempat kantor militer, pusat pembelanjaan, dan terdapat balai tari. beberapa bangunan culture tersebut dibangun selama masa pendudukan jepang. mungkin di area Zhongshan bagian dari kelanjutan Proyek Rusia di Dalian.

di pagi itu pula kubertemu toko Northern Book Town. salah satu toko buku di kota Dalian yang saya temukan setelah mengubek ubek peta. selain itu, saya menemukan jalan bernama Lu Xun road. Lu Xun?

di sepanjang jalan yang bernama Lu Xun road itu semua area gedungnya dijadikan cagar budaya sejarah nasional. nasional China. gedungnya bagus terawat. kecuali gedung yang saat ini dialihkan jadi kantor pos. tidak terurus, dalam artian tidak dibersihkan tiap hari. gedung lainnya cakep. apalagi di ujung-ujung bundaran, terdapat stasiun kereta underground.

setelah memutari jalan, mataku tertegun dengan jalan utama yang bernama seolah familiar. Luxun Road. wah, jalan yang saya lihat di peta tadi. benarkah Lu Xun itu? si esais kawakan China? seorang penulis, yang namanya dijadikan nama jalan?

saya tertegun. seorang penulis dijadikan nama jalan. bagi warga sini mungkin ini adalah pekerjaan karya yang agung dihormati. tidak sebatas pahlawan bangsa. atau ‘pahlawan bangsa’.

apa yang telah diperbuat bapak Lu Xun, penulis esai dan cerpen dalam China kontemporer?